Apa Salah Kami?

0
338

“Apa salah kami Bu Ila, mengapa Allah beri kami anak seperti ini?”

Inilah salah satu respon Orang tua yang menerima hasil asesmen anaknya yang ternyata berkebutuhan khusus.
Bahkan berbagai respon lainnya, kadang menolak, tidak percaya, bengong dan menangis, apatis dan tidak jarang yang kemudian berjanji untuk siap mendampingi anaknya.

Pengalaman-pengalaman ini mengajarkan saya banyak hal, mencoba mengkaji diri dan bersedia membantu sebatas kemampuan.

Beberapa hari yang lalu ada orang tua ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) yang berdiskusi dan minta pendapat saya tentang sebuah terapi ABK menggunakan AlQur’an.

“Apakah ini baik dan tidak salah Bu Ila?” tanyanya.

Ya tidak salah dan pasti baik jika dijalankan dengan serius.

Apapun yang kita lakukan pada anak, baik anak “normal” atau ABK pasti baik jika ada dasarnya dan kita telah berusaha serta terlibat dalam proses tumbuh kembangnya. Siap membantu, menjadi pendamping atau mencari solusi terbaik untuk kebaikannya.

Yang tidak benar itu adalah ketika kita mengandalkan atau mengutamakan satu hal saja (misalnya hanya berzikir dan berdoa) dan mengesampingkan hal lainnya. Melupakan terapi sensori, terapi perilaku atau terapi lain yang dibutuhkan anak.

Atau malah sebaliknya, sibuk mengejar ketinggalan anak, mengharapkan anak sama dengan teman seusianya, menjejali berbagai terapi, les dan lainnya. Lupa bahwa anak adalah titipan Sang Pencipta yang punya alasan atas penciptaanNYA tersebut dan kitalah yang dipilih untuk menjadi malaikatnya.

Bagi kita Muslim, setiap peristiwa atau cobaan yang diberikan pada kita haruslah berdampak pada peningkatan Iman-Taqwa pada sang pemberi kehidupan.
Pasangan dan anak-anak bagaimanapun bentuk dan rupanya adalah kasih sayang Allah dan menjadi wasilah kita untuk mendapatkan RidhoNYA.

Lalu, bagaimana cara menyikapinya?

Lakukanlah berbagai upaya secara menyeluruh dari semua aspek. Tetap berdoa, berzikir dan bermuhasabah atas kealpaan diri dengan tidak melupakan mencari informasi, belajar dan melakukan terapi yang dibutuhkan untuk meningkatkan keterampilan anak.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS An. Nahl ayat 78.

Tugas kita sebagai orang tua untuk memanfaatkan potensi yang telah Allah berikan pada diri kita sendiri dan anak-anak kita.

Jika pendengaran atau penglihatannya sekalipun tidak berfungsi, namun dia masih diberikan potensi lainnya, temukanlah.

Tidak mungkin juga Allah berlaku iseng memberikan cobaan atau persoalan jika sebenarnya kita tidak mampu memikulnya.
Satu hal lagi, “Tidak ada produk Allah yang gagal” Allah pasti punya maksud memberikannya pada kita, apakah itu?
Wallahua’lam

Semangat….

Salam Guru Keluarga
Bu ILA

#orangtuahebat
#orangtuaterlibat
#pendidikankeluarga
#keluargaindonesia
#peduliabk
#abk #ana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here