Berbagi Kisah Tentang Sebuah Pernikahan

0
175

Setiap pasangan pasti memiliki alasan sendiri ketika memulai pernikahan, alasan ini bisa didasari pada alasan positif, namun banyak juga yang menikah karena alasan yang negatif. Selama menjalani sesi konseling dengan pasangan yang baru saja menjalani pernikahan maupun yang telah dikaruniai beberapa orang anak bahkan cucu, alasan pernikahan menjadi hal penting untuk dikulik dalam menyelesaikan persoalan rumah tangga yang mereka hadapi.

Melalui survey kecil-kecilan di kelas parenting maupun media sosial saya, ada beberapa alasan pasangan memulai sebuah perkawinan diantaranya:

  • Faktor usia

Bagi sebagian keluarga menganggap tidak baik jika seorang anak gadis pada usia tertentu belum menikah, takut dianggap perawan tua atau bujang lapuk (sebutan daerah tertentu) seringkali menjadi alasan untuk segera menikah.

  • Hawa nafsu

Hal yang bersifat dunia, penampilan pasangan yang menarik, ingin mendapatkan dukungan ekonomi atau finansial menjadi alasan bagi Sebagian pasangan.

  • Menjaga kehormatan keluarga

Alasan lainnya adalah alasan balas budi, memenuhi janji keluarga, keinginan berbakti pada orang tua sebagai alasan menjaga kehormatan keluarga.

  • Desakan keluarga

Orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya, begitu juga dalam hal perkawinan. Sebuah perjodohan, menentukan pasangan “terbaik” versi orang tua seringkali menjadi alasan seseorang menikah.

Selain alasan terbesar di atas, ada beberapa alasan yang juga menjadi jawaban dari responden yang ikutan survey, yaitu:

  • Memperoleh teman hidup sesuai yang diinginkan dan takut tidak menemukan orang yang lebih baik
  • Ingin keluar dari rumah, tidak ingin diatur, merasa telah mampu mengatur diri sendiri atau karena pertengkaran di rumah, pemberontakan atau pengalihan dari hubungan sebelumnya.
  • Kasihan dengan pasangan yang telah berkorban.
  • Takut kesepian dan merasa sendiri
  • Merasa telah siap dan menemukan pendamping yang selalu mendukung dan bertumbuh, memperoleh teman hidup untuk berbagi.
  • Alasan cinta dan keintiman dan telah merasa cocok.
  • Hamil duluan
  • Ingin menjadi orang tua yang baik, dan memiliki keturunan
  • Dalam rangka menyempurnakan Agama dan beribadah kepada Allah SWT.
  • Menginginkan kehidupan seksual yang lebih aman, mengurangi stress.
  • Ingin memiliki anak yang banyak, anak-anak yang menggemaskan dan menyenangkan hati.

Berdasarkan hal ini, poin-poin penting sebagai alasan pasangan untuk memulai pernikahan menjadi ukuran kualitas dan keberlangsungan hubungan atau ikatan pernikahan. Alasan ini pula yang menjadi dasar penguat atau kelemahan ketika menghadapi badai dan permasalahan dalam sebuah pernikahan. Alasan cinta, sayang, saling membutuhkan dan hal yang sifatnya spiritual ternyata lebih mampu membuat ikatan pernikahan menjadi langgeng serta lebih mudah memaafkan. Namun jika alasan berupa fisik dan harta atau alasan negatif lainnya, cenderung membuat rapuhnya ikatan pernikahan. Pasangan memerlukan upaya yang lebih untuk menghadapi badai rumah tangga yang hadir dan siap memporak porandakan penghuninya.

Temukan alasan terbaikmu mengapa harus menikah dan jatuh cinta pada orang yang sama setiap hari sampai maut memisahkan. Bukan hanya sekedar karena alasan takdir yang menjadi kambing hitam atau sekedar menjalankan peran tradisional adanya ikatan dua makhluk yang saling mencintai. Kesadaran bahwa hidup bersama dengan orang yang berbeda latar belakang, pola asuh, pengalaman dan hal lainnya membutuhkan energi yang tidak sedikit.

Hidup dengan pasangan bahkan bisa lebih lama dibandingkan hidup bersama orang tua. Jadi wajarlah jika dikatakan bahwa pernikahan ini memiliki makna mendalam sebagai upaya menyempurnakan Agama, penguatan ibadah dan pengokoh akhlak setiap anggota keluarga.

Ketika ditanya, usia berapakah sebaiknya menikah? Apakah menikah di usia muda, setelah matang, setelah selesai sekolah, setelah mendapatkan pekerjaan, ketika finansial tercukupi? Berapapun usia kita ketika memulai sebuah pernikahan sangat bergantung pada kematangan dan kesiapan menghadapi setiap babak kehidupan yang sedang dijalani.

Hal penting yang selalu menjadi bahan diskusi saya dengan pasangan adalah bagaimana kami saling meyakinkan diri bahwa keputusan terbaik yang pernah diambil dalam hidup ini adalah menikah dan terus belajar menjalani kehidupan selanjutnya dengan pasangan sampai maut memisahkan. Kami sadar bahwa menikah adalah keputusan seumur hidup, pastinya kita tidak ingin salah langkah, salah arah atau salah jalan yang nantinya akan memengaruhi kehidupan kami ke depannya. Menikah adalah sebuah komitmen yang bukan hanya untuk memenuhi norma masyarakat, memenuhi keinginan untuk bersama apalagi hanya demi alasan fisik dan finansial atau karena alasan usia. Keputuskan menikah berarti menyiapkan energi yang tidak sedikit dengan segala tantangan dan konsekuensinya.

Menjalani pernikahan artinya siap hidup bersama, menerima kekurangan dan kelebihan pasangan, bahkan sisi gelap atau kebiasaan yang berbeda antara pasangan. Hidup dengan orang lain yang mengharuskan untuk saling menghargai, menerima, saling jujur dan menampakkan diri sebenar-benarnya. Menghadapi perbedaan yang pastinya menimbulkan tekanan untuk dihadapi bersama, baik tekanan rutinitas rumah tangga, tekanan lingkungan, keluarga besar dan teman masing-masing dari pasangan.

Menjalani pernikahan  membuat kita terus belajar untuk menjadi dewasa, bijaksana dan memantaskan diri, bukan untuk orang lain tapi untuk kebahagiaan sendiri. Walaupun tidak mudah, namun dalam kehidupan perkawinan mengharuskan kita untuk saling dan terus belajar. Kami akan terus belajar berdiskusi, bertukar pikiran, bekerjasama untuk memikirkan solusi dan kemungkinan resikonya. Senantiasa berlatih untuk menjadi pribadi yang tenang dan berwibawa serta bersiap menjadi orang tua ketika diberikan Amanah dengan hadirnya anak. Mencoba untuk menahan ego, membedakan antara keinginan dan kebutuhan, menutupi kekurangan pasangan dan saling melengkapi. Pastinya banyak “PR” yang akan dihadapi, karena kami yakin inilah kehidupan penikahan yang akan dijalani dengan tujuan mengharapnya Syurga terbaik dari pemilik kehidupan.

Masih ingatkah kamu ketika memulai suatu pernikahan dulu? Setiap orang pasti memiliki pengalaman berbeda dan hal ini menjadi tantangan tersendiri, mudah ataupun sulit sangat tergantung dari pola piker kita  masing-masing. Apapun pengalamanmu, mari yakinkan diri bahwa pasangan kita saat ini adalah anugerah terindah yang diberikan Allah agar kita. bersyukur atas pencapaian menuju kebahagiaan bersama orang-orang terkasih.

Salam Pendidikan Keluarga

Mau IKUT “Sekolah Keluarga” bersama Bu Ila?

DAFTAR via Wa.me/+6281396200313

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here