Bisa Membaca Atau Senang Membaca? By: Bu ILA

0
321
Azzami-Keranjingan Membaca

Jika ada pertanyaan, “Mana lebih baik, anak bisa membaca atau senang membaca?“ Kira-kira Orangtua akan menjawab apa ya? Dari beberapa kelas literasi keluarga yang sudah saya lakukan, Orangtua menjawab: “Bisa membaca dan senang membaca juga.” (hehehe, kan disuruh milih). Namun, seringkali kita sebagai Orangtua dan guru PAUD, sangat fokus pada kemampuan anak ‘bisa membaca’, sehingga selalu mencari berbagai trik atau teknik ‘cara cepat bisa membaca’. Jika orangtua atau guru lebih peka dan selalu memberikan rangsangan pada tiap tahap perkembangannya, InsyaAllah mereka akan menjadi anak yang keranjingan membaca.

Doc. Bu Ila

Umur berapa sebaiknya anak diajarkan membaca ? Apakah ketika anak tamat TK ia wajib mampu membaca? Tentu pertanyaan di atas sering kita dengar, baik dari kalangan pendidik atau juga dari kalangan orangtua. Bahkan, kekhawatiran lembaga pendidikan PAUD yang jika anak didiknya tamat TK tidak dapat membaca maka lembaga mereka akan sepi peminat karena dianggap gagal mengajari anak. Jawaban dari saya, jangankan anak TK, ketika bayi pun anak dapat diajarkan membaca! Pertanyaannyanya, mengajarkan membaca huruf dan kata apakah sebanding dengan sikap dan kesenangan membaca apa saja serta berminat kepada bahan bacaan?

Doc. Bu ILa

Selama ini, kemampuan membaca hanya ditekankan pada keterampilan merangkai huruf menjadi kata lalu menjadi kalimat tanpa mengerti arti sesungguhnya. Bahkan hal yang sering terjadi adalah banyak anak yang mampu membaca dan menulis dengan rapi tapi  tetapi tidak enjoy dan menjadi keranjingan dengan aktifitas membacanya.

Kondisi inilah yang banyak terjadi saat ini di dunia pendidikan atau di keluarga. Sebuah kondisi dimana kita tidak menyadari bahwa banyak anak-anak bahkan mungkin termasuk kita sendiri, ketika sedang membaca sebenarnya ‘tidak sedang membaca’. Karena hati dan pikiran tidak pada apa yang dibaca, hanya untuk memenuhi kewajiban harus membaca. Jika membaca adalah usaha sadar untuk mencari tahu dan karena membutuhkan sebuah informasi dafri apa yang harus dibaca maka membaca adalah sesuatu yang sangat menarik.

Sesungguhnya, hal penting dalam mengajarkan membaca bagi anak adalah bagaimana menimbulkan minat yang tinggi terhadap bahan bacaan sehingga mereka secara berproses akan mampu membaca bahkan sampai pada hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan sama sekali. Apalagi, pada dasarnya setiap anak memiliki keingintahuan yang besar pada hal-hal yang bersifat baru. Hindarilah menggunakan metode instruksi atau memaksa anak untuk menulis dan menyebutkan huruf dalam merangkai kata. Lakukan secara persuasive, dengan membaca mereka dapat menjawab rasa penasarannya, memuaskan keinginan bereksplorasi pada banyak informasi seru.

Sadarilah Ayah Bunda dan para guru, metode intruksi membaca huruf dan kata tanpa menyematkan makna hanya akan berhasil untuk jangka pendek, bahkan cara itu berpotensi melahirkan pengalaman yang buruk sekaligus mematikan motivasi mereka untuk berkembang lebih baik. Hal yang paling esensial dalam upaya mewujudkan kesenangan membaca akan melahirkan kemampuan menulis, berimajinasi, serta menggali apa yang dibaca secara lebih mendalam tanpa ada paksaan. Ibarat anak yang belum waktunya berjalan, namun sudah dipaksa oleh orangtua untuk berdiri, padahal semuanya memerlukan proses yang harus dijalani dengan mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkannya. Begitu juga dengan proses belajar membaca. Jika orangtua atau guru lebih peka dan selalu memberikan rangsangan pada tiap tahap perkembangannya, InsyaAllah mereka akan menjadi anak yang keranjingan membaca.

Berdasarkan pengalaman saya dengan kelima anak dan anak dari Orangtua yang minta dibimbing untuk belajar membaca, anak-anak yang terbiasa diberikan kemampuan bahasa lisan yang baik, kosa kata yang kaya, dan diberi kebebasan berekspresi, akan cenderung memiliki kemampuan membaca dan menulis yang lebih baik pada usia yang sangat dini. Kita cukup merangsang anak dengan berbagai informasi yang menarik sesuai usianya, mengenalkan buku, membacakan buku dan memberikan kesan positif pada anak bahwa buku adalah sesuatu yang menarik untuk senantiasa dinikmati. Maka kemampuannya membaca jauh lebih baik dibanding anak seusianya yang belajar membaca dengan cara dipaksa.

Guru dan orangtua yang bijak selalu memberikan pengalaman bermain dan merangsang keterampilan sosial anak untuk memberikan pengaruh yang positif pada perkembangan intelektual mereka. Sangat menyedihkan jika masih ada guru yang mengajarkan membaca dan menulis, dengan hanya meminta si anak duduk dan mengerjakan tugas meng-copy huruf atau menghubungkan titik yang membentuk huruf tanpa menghadirkan kedekatan kata yang mereka tuliskan dengan apa yang dirasakan serta dipikirkan anak.

Doc. Bu Ila

Pengalaman anak saya Azzam ketika usianya 5 tahun yang mogok menulis di sekolah, setelah diajak komunikasi, ternyata Azzam bukan tidak mau menulis tapi ia hanya tidak suka menuliskan ulang huruf yang sudah mampu dibuatnya karena dianggap tidak menarik. Selama ini saya selalu membiasakan anak-anak untuk menuliskan apa yang dipikirkan dan dirasakannya, bisa melalui tulisan, gambar atau cerita supaya menjadi sesuatu yang bermakna bagi dirinya.

Ketika anak senantiasa menyaksikan orang-orang disekitarnya menjadikan buku dan aktivitas literasi sebagai kegiatan yang mengasyikkan, anak akan meniru dan hal itu akan menjadi gaya hidupnya. Anak memiliki kemampuan yang lebih baik dari orang dewasa dalam mempelajari sesuatu.

Semoga bermanfaat.

Salam

Bu Ila (Coach Pendidikan Keluarga)

***

  • Penerima Apresiasi Orangtua Hebat 2018 dari Kemendikbud RI
  • Penerima Apresiasi Penggerak Literasi 2019 dari Kemendikbud RI
  • Pemenang Lomba Blog Cerdas Berkarakter 2020 dari Puspeka Kemendikbud RI

Untuk kegiatan parenting, konseling dan coaching keluarga baik online maupun offline silakan menghubungi via WA 081396200313 (Bu Ila)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here