Dengarkanlah Anak Remajamu

0
331

Setiap Orangtua pasti menyayangi dan menginginkan kebaikan pada anaknya. Hanya saja, dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak, tidak jarang menimbulkan konflik dan berujung perasaan tidak nyaman diantara keduanya.

Mendidik anak yang merupakan generasi alpha dengan perbedaan value, cara berpikir, dan karakteristik teknologi digital begitu lekat pada keseharian anak. Kemudahan dan perilaku instan memengaruhi cara anak bersikap, berpikir atau berperilaku.

Kenyataannya, banyak orang tua yang mengalami permasalahan dalam hubungannya dengan anak terutama anak yang mulai remaja dan ingin menunjukkan jati dirinya.

Ketika relasi yang terjadi antara anak dengan orang tua menggunakan pendekatan bahwa orang tua lebih tahu dari anak, lebih berkuasa, lebih berpengalaman, kerap menimbulkan konflik yang tidak berujung.

Kasus seperti ini sering saya temui ketika mendampingi keluarga di sesi konseling. Orang tua memerlukan media yang menjadi telangkai untuk menerjemahkan jurang komunikasi yang berdampak negatif pada relasi orang tua dengan anak remajanya.

Perbedaan yang memunculkan aura negatif, kebekuan serta konflik berkepanjangan jika tidak segera dicairkan akan memunculkan banyak permasalahan serta ketegangan di dalam keluarga.

Ayah Bunda…
Marilah berpikir lebih jernih, hati yang lapang dan pikiran terbuka. Bukan lagi berbicara siapa yang menang atau kalah, siapa yang harus dipatuhi dan dipahami.

Sadarlah Ayah Bunda… Hidup anak saat ini sudah berat dengan tuntutan lingkungan, kemudahan akses informasi yang melenakan dan seringkali menimbulkan perasaan masa bodoh dan ingin menikmati hidup dengan mudah ditambah fasilitas yang diberikan orang tua. Anak-anak yang tidak terbiasa menerima tantangan, rapuh dan krisis kepercayaan diri.

Ayah Bunda…
Bantulah anak-anakmu untuk siap menerima konsekuensi apapun dari pilihan dan sikap yang diambilnya dalam kesehariannya. Mulailah dari diri sendiri sebagai contoh.

Perasaan sedih, jengkel, kecewa, marah adalah proses anak mengelola emosi menuju kebahagiaan dirinya. Anak akan siap menerima konsekuensi atas apapun keputusan yang diambilnya serta belajar menstabilkan diri dalam mengelola rasa dan perasaan diterima di lingkungannya.

Sikap apa yang diharapkan anak dari orang tuanya?

Jadilah teman yang siap mendukung, mendengar, memberikan stimulus dan memberikan tanggung jawab dalam rutinitas kehidupan mereka. Jika mereka salah dalam mengambil keputusan, berilah maaf dan siap menjadi teman curhat.

Dengarkanlah mereka yang mulai beranjak menjemput kedewasaannya. Bukan cuma nasehat dan perilaku menuntut dari kita orang tuanya.

Sudilah menjadi sahabat yang siap berbagi suka duka, memberikan contoh dan berbagi inspirasi tanpa tuntutan yang mereka sendiri masih gamang menghadapi dunianya.

Biarkan anak merdeka menentukan sikap, jujur dengan kelemahannya dan siap menghadapi tantangan, bahagia serta bermanfaat atau perasaan dibutuhkan orang lain.

Bantulah mereka percaya diri bahwa mereka manusia terbaik, pemimpin masa depan.

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”
QS. Ali Imran ayat 110

Bu ILA
Fasilitator Pendidikan Keluarga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here