Jangan Menjadi Racun Bagi Anakmu By: Bu ILA

0
514

Secara naluri, setiap orangtua pasti mencintai dan menyayangi anak, ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Namun, tidak sedikit orangtua yang salah mengartikan rasa cinta dan sayang ini, bahkan membuat anak terluka secara fisik, mental dan emosi.

Berita buruknya, perasaan terluka ini akan terus dibawa anak hingga ia dewasa, membentuk keluarga baru dan akhirnya menularkan perasaan ini kepada pasangan dan anak-anaknya kelak. Ibarat mata rantai yang tidak terputus, ibarat lingkaran setan yang sulit keluar dari penderitaan yang mereka buat sendiri, akhirnya memunculkan banyaknya korban anak-anak bahkan orang dewasa yang mengalami gangguan kesehatan mental.

Banyaknya kenakalan, kejahatan dan perilaku negatif yang tidak diterima secara sosial, berasal dari tidak berfungsinya peran keluarga dalam pola asuh yang berkualitas. Disfunctional peran keluarga ini dapat menyebabkan rendahnya konsep diri anak, anak yang tidak percaya diri, penyesuaian sosial yang rendah, tugas perkembangan yang belum tuntas dan tidak sesuai usianya serta gangguan kepribadian lainnya.

Seumpama racun  yang terus menggerogoti tubuh dan kesehatan seseorang, maka perilaku destruktif dan pola asuh yang negatif yang diberikan orangtua dapat membuat kondisi mental anak semakin memburuk.

Betapa banyaknya oangtua yang tidak menghormati dan memperlakukan anaknya dengan baik sebagai individu, yang tentu punya kelemahan, pernah salah atau memiliki ketidakmampuan. Pola asuh negatif dapat membuat anak tidak mampu belajar dan berkembang sesuai dengan kadar kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Anak mengalami persoalan yang berhubungan dengan  belum selesainya ia dengan dirinya, konsep diri rendah dan tidak siap menghadapi tantangan hidup.

Anak berhak dilahirkan dalam keluarga bahagia, mencintai mereka seutuhnya. Memiliki orangtua dan keluarga yang menerima mereka apa adanya dan menjadi kawah candradimuka untuk anak berkembang dengan baik hingga siap menghadapi kehidupan yang lebih baik ke depannya.

Bu Ila yakin, kita sebagai orangtua akan selalu berusaha mendukung tumbuh kembang anak, menjadikan keluarga kita sebagai tempat terbaik untuk melatih mental dan emosional anak. Menjadikan rumah kita sebagai tempat pulang yang selalu dirindukan bagi setiap anggota keluarga.

Keluarga Bu Ila

Mari melirik beberapa perilaku negatif yang harus dihindari orangtua untuk menghadirkan pola asuh yang berkualitas bagi anak-anak. Semoga perilaku ini tidak kita miliki dan Bu Ila berharap kita segera bertobat jika ini pernah dilakukan. Apa saja ya, Yuk disimak

  1. Bicara kasar pada anak

Anak akan belajar dari orangtua dalam berperilaku dan berbahasa. Ketika orangtua selalu menunjukkan perilaku dan bahasa kasar pada anak, maka anak akan menunjukkan perilaku yang sama pada orang lain, terutama orang yang lebih lemah. Hal ini juga menjadi dasar perilaku perundungan anak kepada anak lainnya. Atau anak menjadi pribadi yang tidak percaya diri, penakut dan tidak berani mengambil keputusan dalam hidupnya.

  1. Mempermalukan anak di depan orang lain.

Walaupun dengan alasan menegakkan disiplin, memarahi atau mempermalukan anak di depan umum dapat beresiko mengganggu psikis anak. Jika ada hal yang tidak kita sukai atau anak melanggar aturan, bicarakanlah pada anak dengan bahasa yang baik dan dimengerti oleh anak. Setiap orang butuh dihargai, begitu pula dengan anak-anak kita.

  1. Membedakan anak

Sikap adil memang bukan perkara mudah, begitu juga bagi kita orangtua yang memiliki anak lebih dari satu. Hindari perilaku pilih kasih yang dapat menimbulkan luka dan kebencian diantara saudara. Jelaskan pada anak tentang alasan perlakuan kita yang mungkin berbeda karena masalah perbedaan usia, kebutuhan, kesehatan atau kepribadian masing-masing anak. Hal ini membuat anak memahami alasan orangtuanya dan mereka diperbolehkan menyampaikan keluhan atau perasaannya.

  1. Sering mengkritik anak dan tidak memberi kesempatan pada anak untuk mengemukakan pendapatnya.

Anak yang sering dikritik merasa dirinya dihakimi, tidak siap menghadapi kegagalan, tidak percaya diri dan tidak berani mengambil keputusan dalam hidupnya. Rasa marah seringkali menutupi maksud baik orangtua. Ketika orangtua menginginkan sesuatu yang baik pada anak atau tidak setuju dengan perilaku anak, maka katakanlah pendapat kita dengan santun dan penuh kasih sayang. Hal ini akan menghindari anak dari kecemasan dan ketakutan untuk mencoba dan melakukan sesuatu yang dianggapnya baik.

  1. Menyalahkan anak atas kejadian buruk yang terjadi.

Hindari perilaku menyalahkan anak atas sesuatu hal yang mungkin terlihat buruk. Misalnya menyalahkan karena anaklah orangtua menjadi susah, menyebabkan Ibu tidak bisa berkarir atau menyalahkan kakak jika adiknya terluka. Orangtua yang merasa dirinya paling benar dan selalu mengungkit kesalahan yang dilakukan anak.

  1. Membicarakan keburukan anak

Sadar atau tidak sadar, banyak orangtua yang menjadikan perilaku buruk anak sebagai topik pembicaraan. Baik dengan sesama orangtua maupun dengan keluarga lainnya, hal ini menyakitkan bagi anak. Ketika kita saja sebagai orangtua tidak dapat menjaga rahasia anak bagaimana anak dapat menjadikan orangtuanya sebagai orang yang dipercayai anak untuk berdiskusi dan mengungkapkan perasaannya.

  1. Menjadi penagih hutang atau rentenir pada anak

Bukan berarti karena telah mengasuh dan membesarkan anak, orangtua berhak meminta balasan. Seperti rentenir yang meminta lebih dari yang sudah diberikan, sebagai orangtua seringkali tidak sadar atas apa yang dilakukannya. Meminta anak membahagiakan orangtua, mengharapkan anak melakukan seperti keinginan, harapan dan permintaan orangtua menjadi bumerang yang membuat anak merasa harus membalas budi kedua orangtuanya. Membuat anak harus bertanggung jawab atas kebahagiaan orangtuanya.

Semoga kita terhindar dari perbuatan yang menjadi penyebab anak tidak berkembang dengan baik, membuat anak tidak produktif, menyalahkan diri dan mengalami luka batin yang merusak immun tubuhnya. Jangan sampai perkataan dan perbuatan kita menjadi racun yang menggerogoti pertahanan mental anak dan menimbulkan masalah gangguan sosial dan emosional bagi anak.

Semoga bermanfaat

Salam

Bu Ila (Coach Pendidikan Keluarga)

 

– Penerima Apresiasi Orangtua Hebat 2018 dari Kemendikbud RI

– Penerima Apresiasi Penggerak Literasi 2019 dari Kemendikbud RI

– Pemenang Lomba Blog Cerdas Berkarakter 2020 dari Puspeka Kemendikbud RI

 

Untuk kegiatan parenting, konseling dan coaching keluarga baik online maupun offline silakan menghubungi via WA 081396200313 (Bu Ila)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here