Masjid Sebagai Pusat Penguatan Karakter

2
588
www.ceritabuila.id

Jika kita keluar kota sahabat akan berujar, jangan lupa oleh-oleh ya. Nah, buat memenuhi apresiasi teman-teman, Bu Ila akan berbagi oleh-oleh berupa cerita perjalanan sebagai inspirasi dan apresiasi karena sudah diundang Pusat Penguatan Karakter, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Sinergi Implementasi Program Penguatan Karakter bersama Sahabat Karakter.

Sebagai tujuan dari sebuah Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) adalah membuat Rancangan Tindak Lanjut (RTL) yang rela tidak rela menjadi tanggung jawab untuk dijalankan oleh peserta DKT di lingkungan kerjanya masing-masing. Salah satu tugas yang Bu Ila yakinkan dalam diri sebagai Sahabat Karakter ya mengoptimalkan dukungan dan komitmen menjadikan program penguatan karakter sebagai prioritas utama.

***

Sebelum kembali bergelut di rutinitas pendidikan keluarga, Bu Ila mengeksplore Masjid Jogokariyan Yogyakarta yang lagi hits dalam menebar kebaikan dengan manajemen masjidnya yang cukup memukau. Ternyata bukan kabar angin lho, sengaja bermalam di sekitar masjid, melihat langsung proses dan bukti bagaimana keseriusan pengelola masjid dalam menjalankan peran strategisnya membangun masyarakat secara keseluruhan. Masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah sholat saja, tapi juga pusat keilmuan, budaya, politik, ekonomi dan sebagainya. Secara professional menggerakkan komponen-komponen peradaban, sebagai pusat penguatan karakter.

Berbagai kegiatan sosial yang kreatif dan inovatif, digerakkan pengurus masjid menjadi magnet dari seluruh penjuru negeri datang berkunjung dengan berbagai alasan. Seperti yang lainnya, kami sengaja datang akhir pekan untuk menyaksikan langsung, diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan masyarakat dan relawan di Kabupaten Deli Serdang (mulai dari relawan magrib mengaji sampai komunitas sekolah Orangtua yang telah dikelola selama ini).

Begitu banyak cerita menarik yang dicatat ketika 2 hari berkunjung ke Masjid Jogokariyan. Mulai dari masjid yang buka 24 jam, jama’ah yang selalu penuh di hampir setiap waktu sholat, pengurus masjid yang ramah, pembinaan anak dan remaja, pasar rakyat dengan pembagian voucher sarapan sebesar sepuluh ribu bagi setiap Jemaah sholat Shubuh, ramainya pengunjung di akhir pekan dan masih banyak lagi (kamu bisa searching di mbah google kegiatan mereka jika belum sempat singgah).

Namun, Bu Ila mau cerita pengalaman luar biasa yang membuat hati ini meleleh, mau tau? Lanjut bacanya ya….

Di shubuh minggu dengan jamaah yang membludak (sampai ke jalan raya), petugas bersiap sesuai dengan juknisnya masing-masing untuk menjalankan aktivitas pasar rakyat. Setiap jamaah shubuh mendapatkan gratis voucher sarapan yang bisa ditukarkan pada pedagang UMKM di sekitar masjid dengan berbagai aneka menu sarapan yang pastinya menggoda. Tapi, terlepas dari niat jamaan (hanya mereka yang tahu), animo pengunjung di luar jamaah shubuh begitu membludak, padahal jika dilihat dari penampilan masjid tidak mewah bahkan terkesan sederhana. Hal yang patut diacungin jempol adalah suasana tidak crowded, semua tertata baik dengan petugas yang berpakaian layaknya Prajurit Jogokaryo. Pedagang yang diatur sedemikian rupa dan parkir luas di sekitar masjid membuat pengunjung cukup nyaman.

Dikarenakan khusus datang tanpa agenda yang mengganggu, Bu Ila sempat mengeksplore hampir di setiap sudut masjid, mencicipi aneka penganan dan berkenalan dengan beberapa pengunjung dari berbagai daerah yang juga khusus datang untuk menyaksikan aura penguatan karakter yang begitu terasa.

Setelah memesan, diantar pedagang langsung ke tempat lesehan di teras masjid,  bahkan sampai selesai makan dan minum dilanjutkan ngobrol ngolor ngidul. Hati jadi bertanya-tanya, mengapa tidak ada satupun petugas atau pedagang yang menagih uangnya ya? Karena penasaran dan takut terlupa, Bu Ila mendatangi setiap pedagang yang makanannya telah dipesan siap membayar dan bertanya.

“Kenapa uangnya nggak ditagih Mas, bisa aja kan saya lupa atau ngemplang nggak bayar.”

Dengan santai mereka berucap: “Rezekikan dari Allah SWT, Ibu hanya perantaranya saja.”

Widih, tertampar sayanya, begitu taqwanya, yakin akan janji Allah dan hati ini begitu tenang berada di  lingkungan orang-orang yang memiliki  kekuatan karakter.

Jiwa kepo ini jadi meronta, bagaimana mereka begitu terbina, sejak kapan, bagaimana prosesnya, apa tanggapan masyarakat di sekitar masjid, Bu Ila mulai melakukan observasi dan wawancara kecil-kecilan.

www.ceritabuila.id

Ternyata, dari hal sedikit saja yang dilihat, masih banyak cerita seru yang mengalir dari orang-orang sampai radius 1 km sekitar masjid, bahkan sampai pengemudi kenderaan online tidak luput dari wawancara yang dilakukan. Begitu banyak cerita positif mengalir dari mulut mereka, membuat semakin tercengang (mulai dari jika kehilangan sepeda motor ketika beraktivitas di masjid diganti dengan kenderaan baru, catatan perkembangan jamaah secara ekonomi dan sosial dan lain-lain). Jadi pengen lama-lama disini buat menyerap ilmunya.

Bu Ila semakin yakin bahwa, rumah ibadah dapat menjadi pusat penguatan karakter jika kita mau bekerjasama dengan pengurus masjid dan jama’ahnya, semangat bersama menebar kebaikan sebagai sahabat karakter di http://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/

Semoga tugas ini dimudahkan, tetap semangat dengan keyakinan yang kuat, fastabiqul khairat.

Yuk Berbagi Cerita di https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/sahabatkarakter/home

#portalpraktikbaik

#sahabatkarakter

#puspeka

#penguatankarakter

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here