Menang Jadi Abu Kalah Jadi Arang By: Bu Ila

0
673

Adakah manusia yang tidak mengalami konflik dengan orang lain ketika berhubungan? Tentu tidak, begitu juga halnya dengan pertengkaran antara pasangan suami istri. Bahkan pasangan dan keluarga yang terlihat harmonis dan damai saja pasti pernah mengalami pertengkaran, namun tidak selamanya membahayakan ikatan pernikahan.

Pasti pernah mendengar kisah Rasulullah menghadapi kecemburuan istrinya Aisyah ra,diceritakan oleh Anas bin Malik ra.

“Nabi Muhammad SAW berada di salah satu rumah istri-istri beliau (Aisyah). Kemudian salah satu istri nabi (Ummu Salamah) mengirimkan sebuah piring yang berisi makanan. Maka istri nabi, yang mana nabi shallalahu alaihi wa sallam berada di rumahnya (yakni Aisyah) memukul tangan sang pembantu. Maka piring tersebut jatuh dan pecah. Kemudian nabi shallahu alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan-pecahan piring tadi dan beliau juga mengumpulkan makanan-makanan yang ada di piring seraya berkata ‘Ibu kalian sedang cemburu’.” (HR Bukhari)

Bahkan, terkadang konflik yang terjadi di dalam keluarga atau pasangan disebabkan pada hal sepele, hal kecil yang ketika tidak diselesaikan akan menggelinding terus menerus membentuk bola yang besar siap untuk membobol pertahanan rumah tangga. Berdasarkan pengalaman memberikan konselng keluarga, ada beberapa sebab yang menjadi sumber konflik diantaranya: anak, ketidak sesuaian hobi atau kesenangan pasangan, perilaku dan cara pandang pasangan, Orang tua atau keluarga besar masing-masing pasangan (Mertua dan ipar), teman atau lingkungan di sekitar pasangan. Intinya, konflik dapat terjadi karena perbedaan cara pandang dan rasa penerimaan kedua belah pihak serta cara menyikapinya.

Kesadaran diri para pasangan bahwa dalam sebuah hubungan pasti akan menghadapi perbedaan, maka alangkah baiknya menghindari adu argumen dan perdebatan  sengit yang ujung akhirnya menimbulkan rasa tidak nyaman, ingin menang atau merasa paling benar. Belajarlah untuk bernegosiasi dan menjadi layaknya diplomat yang menawarkan sebuah solusi terbaik tanpa harus menjatuhkan. Ibarat kata pepatah, “Menang jadi abu kalah jadi arang”. Tidak ada yang mendapatkan keuntungan ketika berseteru, baik yang menang ataupun yang kalah, keduanya mendapatkan konsekuensi negatif dan merugikan diri sendiri.

Saya menuliskan sebuah puisi yang terinspirasi dari para pasangan yang sedang menghadapi konflik dalam hubungannya.

Peran Kemenangan

Oleh: Bu Ila

Kita bukan sedang bermain kan ?

Permainan menang-menangan

Ketika yang kalah harus melambaikan tangan

Terpenjara pada derita berkepanjangan

Terkungkung di dalam lingkaran setan

Lantas, yang menang bolehkah melempar senyuman

Menari di atas puing kehancuran

Merona semu pada wajah kepongahan

Memahat patung lambang kemenangan

Namun…

Kita tak mampu lagi bergandengan tangan

Bara semakin merah berhamburan

Badai ini meluluh lantakkan biduk ketenangan

Nanar mata jiwa padamkan dian keagungan

Ikatan ini semakin renggang dari genggaman

Kita bukan sedang bermain kan ?

Teriak sukma iringi genderang kehancuran

Semakin lirih mengharap sebuah jawaban

HENTIKAN…

Aku lelah memainkan peran kemenangan

Seringkali, ego masing-masing lah yang semakin memperkeruh konflik dan melupakan tujuan ketika memutuskan untuk menikah membangun keluarga sakinah. Kita dan pasangan bukan orang yang sempurna, namun dengan bergandengan harusnya kita saling menyempurnakan, meyakinkan diri bahwa konflik akan membuat kita semakin dewasa.

Salam

Bu Ila (Coach Pendidikan Keluarga)

Untuk kegiatan parenting, konseling dan coaching keluarga baik online maupun offline silakan menghubungi via WA 081396200313 (Bu Ila)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here